Holopis Kuntul Baris

illustrasi illustrasi

Moralitas   pribadi merupakan salah satu isu terpenting  saat menyoroti perilaku elit politik menjelang pelaksanaan pemilihan umum (pemilu). Apapun alasannya ihwal ini menjadi ukuran standar perilaku elit politik. 

Pertimbangan moral bisa dibatasi pada kehidupan pribadi (individu). Maka, dimungkinkan perilaku elit politik berbasis sepenuhnya moralitas. Sehingga perilakunya harus sejalan dengan keyakinan agama dan moralnya.
    Apakah aturan-aturan moralitas bagi elit politik berbeda dengan yang berlaku bagi individu ? Juga adakah standar ganda etika dan moralitas politik khusus yang member elit politik kebebasan yang lebih besar ?
    Hobbes menilai manusia secara alamiah dan pada dasarnya selfish. Artinya, manusia cenderung mementingkan diri sendiri, suka bertengkar, haus kekuasaan, kejam, dan jahat. Dan, terbukti pandangan Hobbes bahwa karena mementingkan diri sendiri, elit politik cenderung mengabaikan aturan moral dan etika.
    Slogan holopis kuntul baris adalah ungkapan yang pernah dilontarkan Bung Karno untuk menyemangati bangsa Indonesia agar bergotong royong. Maksud ungkapan itu sendiri adalah bekerja sama untuk menangani hal besar. Sehingga  masalah apapun pasti terselesaikan.
    Ternyata saat ini slogan politik holopis kuntul baris sudah musnah. Pada giliran kalangan elit mengaplikasikan politik burung unta. Yakni   politik yang menganggap semuanya seolah-olah tak ada masalah.
    Penguasa atau politisi yang cenderung menganggap seolah-olah tak ada masalah padahal masalahnya bergudang-gudang. Itulah penguasa   atau politisi burung unta.
    Politik burung unta  adalah politik yang tidak mau ambil kesulitan. Mungkin maksudnya politik cari aman.
     Analogi politik burung unta menggambarkan jika menghadapi bahaya, misalnya dikejar oleh hewan predator atau pemburu, burung unta  lari kencang memanfaatkan kakinya yang panjang dan kokoh. Lalu,  bersembunyi  dengan menyurukkan kepalanya ke dalam pasir atau ke dalam semak-semak.
    Burung unta berpikir, dengan menyembunyikan kepalanya, dia menganggap sudah aman dalam persembunyiannya. Dia lupa, badan besarnya dengan mudah terlihat oleh predator atau pemburu yang mengejarnya.
    Tingkah laku bersembunyi ala burung unta. Itu jelas tidak menyelesaikan masalah. Mereka boleh diberi stigma politik bodoh oleh makhluk manusia, tetapi burung unta memiliki semangat solidaritas, semangat gotong royong, holopis kuntul baris.
    Dus memenangkan semua pertarungan politik itu adalah titik penting dalam mewujudkan mimpi Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian. Cita-cita negara dan gagasan partai untuk rakyat dapat diwujudkan dengan memaksimalkan peran eksekutif dan legislatif, baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional.
    Sebagai sebuah negara demokrasi, kedua peran itu dapat dipegang partai melalui kemenangan dalam pemilu. Untuk mewujudkan cita-cita negara dan gagasan partai guna kesejahteraan rakyat, malah perilaku kebanyakan elit politik menyimpang dari aturan moral dan etika. Pada akhirnya elit politik tedensi bertingkah laku amoral.
    Seharusnya  elit politik menjadikan pemilu sebagai  momentum untuk menempatkan ide, gagasan dan cita-citanya sebagai sumber inspirasi dan motivasi menjadikan Indonesia yang berdaulat dan sejahtera.
      Adakah kesejahteraan Indonesia di masa depan ketika perilaku  elit politik tidak mencerminkan kepedulian pada kepentingan bangsa.  Juga   semua berjuang di politik adalah untuk rakyat, untuk wong cilik, bukan untuk kepentingan pribadi, dan bukan untuk kepentingan kelompok. Tetapi untuk rakyat dan hanya rakyat.

Penulis : Deddy Triyono

« December 2017 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Go to top