Konsep Kamnas Sudah Kuno

JAKARTA-Kekuatan ekonomi bisa menjadi salah senjata keamanan nasional yang cukup ampuh. Alasannya, dalam kondisi ekonomi dunia yang belum pulih dari gejolak krisis keuangan yang masih terjadi di sebagian Eropa, maka isu economic security menjadi isu penting.

Demikian dikatakan Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin, dalam peluncuran bukunya "Arsitektur Keamanan Nasional" bersama Pengamat LIPI, Jaleswari Pramowardhani  di Jakarta, Kamis,(7/11). "Konsep keamanan nasional yang sekarang ini sudah kuno, bahkan konsep ini milik jaman Kerajaan Brawijaya," katanya.

Dalam bukunya, Tb Hasannudin menyitir konsep human security atau keamanan manusia  yang digunakan UNDP. Diantaranya, keamanan ekonomi, pangan, kesehatan, lingkungan, individu, komunitas dan politik. "Konsep human security yang dikenalkan UNDP ini, walau bagaimanapun bukan tanpa kritik. Hal ini yang dilakukan pemerintah Kanada," tambahnya.

Menurut Hasanuddin, economic security merupakan situasi dimana seseorang memiliki sumber pendapatan keuangan yang stabil, yang memungkinkan untuk terpeliharanya standar pemenuhan kehidupan dalam waktu dekat.

Mantan Sekmil era Presiden Megawati ini mengaku sangat kecewa dengan konsep keamanan nasional yang masih dipakai oleh negara untuk menjaga NKRI ini. "Saya ini sudah judeg (kesal), memberikan masukan soal Keamanan Nasional. Mentang-mentang kita oposisi, jadi malah dibilang kita tak paham," ungkapnya.

Yang lebih mengecewakan, sambungnya lagi, Indonesia belum memiliki konsep dan sistem keamanan nasional yang mantap dan terintegrasi. "Saat ini, problem keamanan nasional masih menjadi momok persoalan sejak presiden pertama, hingga kepemimpinan Presiden SBY. Program leadership nasional menjadi trigger utama dalam persoalan absennya konsep dan sistem keamanan nasional," imbuhnya.

Sementara itu, Pengamat militer LIPI, Jaleswari Pramowardhani mengaku Arsitektur Keamanan Nasional yang ditawarkan Tb Hasanuddin merupakan paradigma baru dalam memandang keamanan nasional. "Konsep ini memiliki artian yang begitu luas dalam memandang faktor keamanan," ungkapnya.

Jaleswari tak membantah pemerintah masih terpaku pada konsep-konsep lama soal NKRI, termasuk slogan NKRI harga mati. "Masalahnya batasan wilayah negara itu,  juga makin kabur. Sehingga perangkat keamanan juga menjadi makin rumit," ungkapnya.

Lihat saja, katanya, AS sendiri sedang pontang-panting mempertahankan konsep keamanan nasionalnya. "Bagaimana tidak, beberapa negara seperti Brazil, Meksiko dan lain-lainnya menggugat soal penyadapan," imbuhnya. **cea

Go to top