Jokowi: Ini Rapat Terakhir, Aher Siap Normalisasikan Ciliwung

detaktangsel.com - BOGOR, Ini bukan kali pertama dilakukan rapat koordinasi, sebelumnya pernah dilakukan, namun tak ada hasil akhirnya karena tidak ditindaklajuti. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menegaskan, rapat ini yang terakhir dilakukannya, dan diharapkan harus disikapi dan ditindaklanjuti secara komprehensif.  

Orang no satu di DKI Jakarta ini, menyepakati bahwa pembahasan terkait Ciliwung harus segera dieksekusi untuk mengurangi dampak banjir Jakarta. “Ini rapat yang terakhir, sejauh ini hanya rapat tapi tidak ada eksekusi lapangannya dan diharapkan eksekusinya dimulai tahun ini," katanya.

Pembangunan dua waduk dan satu sodetan akan menjadi program prioritas yang akan dikerjasamakan. Tujuannya agar mengurangi debit air yang datang ke Jakarta sehingga membuat banjir.

“Dengan ini debit air yang datang ke Jakarta akan berkurang hingga 40 persen, semua itu akan terlihta jika semua telah di bangun dan berjalan,” ungkapnya.

Untuk  pembangunan fisik waduk menggunakan anggaran pemerintah pusat dan DKI akan membantu untuk pembebasan lahannya. Berikut pembangunan sodetan ciliwung-cisadane.

Berdasarkan perhitungan Kementrian PU bahwa kapisitas sungai Cisadane masih bisa menerima alirian air sebesar 200 meterkubik per detik (m3/s), kapasitas Cisadane dihilir itu 1950 m3/s dan sejauh ini baru 1550 m3/s, sehingga masih bisa dialiri 200 m3/s.

Lebih lanjut ia mengatakan, terowongan (tunel) ini nantinya difungsikan sebagai pengendali banjir dengan dilengkapi buka-tutup pintu untuk pengontrol debit aliran air.  “Ciliwung dan Cisadane mempunyai dua hulu yang berbeda. Bisa saja debit air di Ciliwung lebih besar dari Cisadane dan saat itulah aliran air dibelokan ke Cisadane, namun bila dua sungai ini dalam kondisi penuh maka tidak akan dialirkan,” jelasnya.    

Dikatakannya, Jawa Barat serta Banten akan menerima konpesasi dari DKI Jakarta terkait pengolalaan serta pengendalian daerah aliran sungai Ciliwung dan Cisadane. Jokowi menerangkan sudah menyiapkan anggaran untuk kompesasi tersebut. “Nanti ada pembahasan lagi untuk daerah Banten, tetapi kita sudah menyiapkan anggaran berlipat terutama untuk penertiban kawasan puncak Bogor,” paparnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Achmad Heryawan menyepakati kegiatan non struktural, seperti penertiban kawasan puncak, pemangfaatan DAS Ciliwung serta melakukan pemberdayaan masyarakat.  “Kita akan membuat normalisasi dengan memperlebar dan memperdalam aliran sungai, penghijauan di aliran sungai serta memberdayakan masyarakat di sekitar sungai,” katanya.

Pria yang akrab disapa Aher itu mengatakan langkah konkret penanganan banjir Jakarta harus dimulai dari hulu dan ruas tengah sungai-sungai di Jawa Barat, hingga kawasan hilir di Jakarta. Salah satu dengan membangun dua waduk raksasa untuk menampung aliran air yang selama ini langsung masuk ke Jakarta jika curah hujan sedang tinggi.

“Pembangunan waduk sudah lama diwacanakan, namun tak kunjung dilaksanakan. Baru kali ini namun, tetap saja perwakilan Banten baik itu walikota ataupun bupatinya tidak hadir. Kita akan souding semuanya agar mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkapnya.

Agar program ini bisa berjalan sesuai dengan harapan, harus di dukung pula dengan  program-program yang lainm seperti menertibkan bangunan liar yang berdiri di bibir sungai, dimana sesuai aturan bahwa bangunan harus berdiri sejauh 20 meter dari bibir sungai.

Melakukan normalisasi daerah aliran sungai (DAS) dengan menanam pohon di pinggiran sungai, serta mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran kali dan sungai untuk tidak membuang sampah ke sana.

“Kita harus galakan lagi gerakan Ciliwung bersih dan menaam pohon disepanjang sungai sebanyak 1 miliar pohon dan membuat sumur resapan untuk mengurangi limpahan air yang berlebih saat hujan datang,” pungkasnya. (rul)

« December 2017 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Go to top