Kamu Kok Bisa-bisanya Tertawa, Ya!

detaktangsel.com CELOTEH - Di ujung musim kemarau, banyak terjadi paceklik. Paceklik hati, paceklik toleransi, bahkan paceklik semangat.

Tidak demikian dengan Yoesrizal. Anak juragan tebu acapkali mengumbar tertawa. Juga obral senyum tanpa suku cadang. Heran kan?

Pagi itu, Yoesrizal tampak berdiri. Bersiul menyanyikan lagu Halo-halo Bandung. Entah maksudnya Yoesrizal melantumkan lagu nasional itu. Apakah hati sedang gundah gulana, riang gembira atau paceklik lantaran tidak punya kocek.

Sahrudi menegur ketika Yoesrizal berdiri. Mendengarkan gesekan daun-daun tebu. Semilir angin yang berembus menambah suasana makin sejuk.

"Yoes lagi ngapain lu. Santai dan riang banget?" tanya Sahrudi kepada Yoesrizal.

"Oh, Kang Rudi. Apa kabar, Kang," kata Yoesrizal menjawab tegur sapa Sahrudi.

"Santai, Kang. Saya hanya melihat-lihat padi sudah menguning. Tebu-tebu sedang berkembang."

Sahrudi hanya mendehem. Sambil memegang bahu Yoesrizal, Sahrudi berbincang-bincang. Menanyakan ihwal bisnis Yoesrizal. Bisnis aneka ragam. Ya bisnis, tebu, jagung, ayam sampe kulakan keset dan sapu lidi.

Yoesrizal penuh semangat disinggung masalah bisnisnya. Bercerita mau ada pesanan berton-ton jagung dan tebu ke kota. Berbagai proporsal sudah dilayangkan ke berbagai instansi terkait. Tidak lupa, sejumlah hotel berbintang di kota-kota besar menaruh perhatian terhadap produk keset dan sapu buatan home industry yang dipimpin.

Pokoknya, Yoesrizal merasa bangga meski belum realisasi. Semua masih wacana. Namun, Yoesrizal memberanikan angkat bicara alias berkoar-koar. Sementara Sahrudi diam mendengarkan ocehan Yoesrizal. Kenapa Sahrudi tidak banyak mengapresiasi. Pria suka tampil necis ini tahu kebenaran cerita Yoesrizal. Sahrudi hanya heran Yoesrizal masih bisa bersiul, tertawa, dan nyantai.

Meilan jalan melenggang di depan dua pria yang asik ngobrol. Egal-egol mirip bebek berjalan. Otomatis perhatian Yoesrizal dan Sahrudi fokus ke Meilan.

"Suiiiiiiiit........suiiiiiiiit."

Mendengar siulan Yoesrizal, Meilan berhenti sejenak. Mencari suara siulan yang bernada godain dirinya. Menoleh ke belakang tahu sumber siulan itu.

"Hei ada Mas Yoes toh. Maaf ya Mas, Meilan tidak tahu ada Mas Yoes," ujar Meilan kepada Yoesrizal.

Sambil nenteng hape blackberry, Yoesrizal menyampiri Meilan. Jabat tangan dan cipika-cipiki. Sementara Sahrudi benggong menyaksikan adegan setengah pornografi itu.

"Kang Rudi sini. Kenalin nih Meilan, putri Babah Aseng!" seru Yoesrizal sembari menjelasin bahwa Babah Aseng, pemilik seratus pintu kontrakan di Gang Jambu, Pamulang.

"Sahrudi....," kata Sahrudi memperkenalkan diri kepada Meilan.

"Meilan, Mas."

Diiringi nyanyian alam dari gesekan dedaunan tebu, Yoesrizal over acting di depan Meilan. Sambil ngobrol ngalor-ngidul, sekali-kali tangan Yoesrizal memegang tangan Meilan. Sebaliknya Meilan membalas mencubit pinggang Yoesrizal.

Bak cewek dan cowok ABG (anak baru gede) atau lebih dikenal dengan sebutan cabe-cabean. Antara Yoesrizal dan Meilan cekikikan. Terbahak-bahak tanpa memedulikan sekelilingnya meski cuma ada Sahrudi.

Sahrudi enggak hati. Keberadaannya bak obat nyamuk. Lantas, Sahrudi pamit melanjutkan perjalanan ke rumah Om Arnold Sudimampir.

"Ok, Kang disambung lagi ngobrolnya nanti sore," kata Yoesrizal.

"Insya Allah, Rudi."

Yoesrizal dan Meilan melanjutkan ngobrol. Mereka akrab sekali. Satu sama saling berbalas mencolek. Mencolek apa saja sekenanya tanpa batasan.

Terkadang diselingi tertawa. Tidak hanya cekikikan, malah terbahak-bahak. Nyaris kedua insan ini tanpa beban masalah yang menyeratnya.

« December 2017 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Go to top