Perilaku yang Palsu (bagian I)

detaktangsel.com - SEKETIKA, SOSIOLOG Universitas Gajah Mada (UGM) Yogjakarta Arie Sujito. Pengamat yang cukup terkenal. Namanya, pandangannya, dan kritikannya sangat tajam.

Aku bersama Sang Pujangga Ghozali Mukti dan Gardjito sangat bersyukur bisa mendengar langsung penuturan Arie Sujito ihwal perilaku para politisi.

Arie mengamati kalangan politisi cenderung lantang bicara di televisi. Namun, substansi pembicaraan tidak mencerahkan, sebaliknya yang terjadi justru membodohi masyarakat.

"Kebiasaan para politisi yang senang tampil di televisi lebih mirip menggunjing. Tidak menyuguhkan solusi persoalan. Hanya memamerkan wacana ke publik, yang dibuat kontroversial agar menarik. Sedikit sekali pesan bermanfaat yang disampaikan."

Perbincangan para politisi itu jauh dari kebiasaan bicara yang dicontohkan oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid dan Nurcholis Madjid. Keduanya dan para tokoh seangkatan yang masih hidup selalu berbicara pada substansi dan isinya kebanyakan mencerahkan masyarakat meski seringkali muncul pula wacana yang kontroversial di antara mereka.

"Mereka selalu memberikan pesan rekonsiliasi, tidak berhenti pada kontroversi.


Arie membedah akar persoalan perilaku politisi selebritis di televisi. Katanya, berawal dari kecenderungan politisi mengedepankan citra personal disusul citra partai. Semua perilaku politisi diukur untuk kepentngan pencitraan diri dan partai.

"Ibaratnya para politisi semacam itu mempertontonkan perilaku yang palsu. Mereka tampil untuk pencitraan diri. Seolah-olah untuk kepentingan publik. Padahal tidak ada upaya dari mereka sesuai tanggung jawabnya mengantarkan masyarakat ke gerbang kesejahteraan ekonomi rakyat."

Perilaku politisi yang cenderung mengedepankan citra personal merupakan dampak pragmatisme. Politik ideologi tidak ada lagi. Sehingga tidak ada militansi politisi untuk membela kepentingan masyarakat. Fenomena ini bisa makin jelas gambarannya ketika melihat politisi partai tertentu dengan gampangnya pindah dari satu partai ke partai lain.

Perilaku para politisi seperti itu tak ubahnya dengan perilaku politik palsu. Kalau politik palsu terus dibiarkan, demokrasi akan kian rapuh. Perilaku mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar misalnya. Ia diduga terlibat suap dan tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini menambah citra buruk perilaku politisi.

Aku garuk-garuk kepala bukan karena adanya kutu, melainkan pemaparan Arie sangat membuka mata hatiku. Bahwasannya kebanyakan politisi berjiwa busuk. Hanya mementingkan diri sendiri dan partainya. Tak ayal, ternyata kalangan politisi mendekati dan bergaul dengan rakyat hanya untuk kepentingan sesaat.

"Aku mengerti jalan pikiranmu, Man. Apa yang diungkapkan Arie Sujito goda batinmu ya."


"Kamu kayak dukun, bisa menerawang pikiranku, Zal."


"Itulah kelebihan Ghozali, Man."

"Ya, Gar. Ghozali benar, aku memang terpengaruh pernyataan Arie Sujito. Sungguh, pengamatan Arie adalah kenyataan lapangan. Tidak bisa terbantahkan."

Gardjito, aktivis kampus perguruan tinggi swasta di Yogjakarta. Putra bakul nasi gudeg ini mulai akrab seusai gelar aksi unjuk rasa di Gedung MPR/DPR RI. Kalau tidak sms-an, ya ngobrol di facebook. Di kamar pribadinya ukuran 3/3 meter tergantung di dinding sejumlah poster. Hanya tiga poster yang menarik bagiku. Pertama pesan politik almarhum Soe Hok Gie. Kira-kira begini bunyinya.

"Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang-orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan. Satu lagi, lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan."

Sedangkan nada pesan politik Pramoedya Ananta Toer tidak kalah menarik. Poster bergambar Pram digantung di tengah-tengah poster Soe Hok Gie.

"Dalam hidup cuma satu yang kita punya yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita."

Gardjito ajak aku dan Ghozali singgah ke warung emaknya seusai mengikuti dan mendengar ceramah sosiolog Arie Sujito. Kami berdua ditraktir makan nasi gudeg masakan mbok Yem, emaknya Gardjito.

"Iki lho teman-teman pingin rasakan gudeg masakan emak. Komplit lho, Mak!


"Iyo, Le!"

Sambil menunggu makanan disajikan, aku samber suratkabar lokal. Berita utama sangat menarik, anggota DPR RI malu atas perilaku Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar tertangkap KPK karena kasus dugaan suap.

Yang bikin kecewa wakil rakyat ini antaran Akil yang notabenenya berlatar belakang politisi. Ini berarti menambah coretan buruknya politisi.

Anggota Komisi III yang membidangi masalah hukum ini juga 'ragukan' penggangi Akil.

"Tidak mengurangi kepercayaannya terhadap hakim konstitusi Hamdan Zoelva yang kini menggantikan Akil sebagai Ketua MK. Hamdan Hamdan juga merupakan mantan politikus Partai Bulan Bintang (PBB). Dia harus bisa membuktikan bahwa politisi ini tidak semuanya seperti Pak Akil ini."


"Hamdan harus bisa memimpin institusi di tempat yang disebut-sebut sebagai wakil malaikat ini."

Politikus asal Partai Demokrat ini sangat mengharapkan perilaku Hamdan tidak seperti Akil dan pascakasus Akil, MK bisa berubah dengan baik.

Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap penanganan sengketa Pilkada Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dan Lebak, Banten. Akil merupakan politisi Partai Golkar.

Lalu, berita lainnya menarik perhatian adalah hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Tertulis makin panjang usia demokatisasi di Indonesia, menyusul keraguan terhadap moralitas publik para elit justru memuncak.

LSI kembali mengadakan survei khusus mengenai moralitas publik para elit politik dan hasilnya angka kepercayaan publik kian menurun dari tahun ke tahun.

"Jika dibanding dengan survei yang sama di tahun-tahun sebelumnya, ketidakpercayaan publik terhadap komitmen moralitas publik para elit di survei kali ini paling tinggi."

« December 2017 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Go to top